Saturday, April 28, 2012

Didera Kelainan Bawaan Dislokasi Sendi Panggul

Didera Kelainan Bawaan Dislokasi Sendi Panggul.
Kelainan bawaan dislokasi sendi panggul mengakibatkan sendi panggul tumbuh abnormal. Dengan pemeriksaan sederhana sejak lahir, kelainan ini dapat diketahui dan mendapatkan penanganan sejak dini.

YANI, seorang ibu mengeluh anaknya berjalan pincang saat mulai belajar jalan. Saat dibawa ke dokter, diketahui bahwa sendi panggul mengalami kelainan. Kepala tulang paha yang seharusnya masuk ke dalam sendi panggul keluar sendi (dislokasi).
Ketika mendapatkan penjelasan bahwa kelainan tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak lahir,Yani merasa menyesal karena tidak mengetahui sejak awal.
Dirinya merasa menyesal setelah mendapatkan penjelasan bahwa kelainan tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak iahir, hanya saja tidak dike-tahui sejak awal.

Apa penyebabnya?
Sendi panggul merupakan pertemuan antara tulang paha (femur) dengan bagian dari tulang pelvis (acetabulurn). Pada kondisi normal, kepala tulang paha (kaput femoris) berada di dalam acetabulum. Pada anak tertentu, terjadi lepas sendi (dislokasi). Jika tidak dideteksi sejak awal dapat terjadi gangguan perturrlbuhan kepaia tulang paha dan bagian tulang panggul
adalah sekitar 1 dari 1000 kelahiran, sedangkan di Indonesia belum didapatkan data.


Sendi panggul menyerupai mangkuk dan bola. Bagian mangkuk disebut juga dengan acetabulum dan bagian bola dikenal dengan kepala tulang femur. Dalam kondisi normal kepala tulang paha berada di dalam mangkuknya, tulang acetabulum. Dislokasi artinya seluruh kepala tulang paha keluar dari mangkuknya. Sedangkan pada subluksasi bagian yang keluar hanya separuhnya.
Terdapat beberapa faktor yang diduga berperan terhadap kejadian kelainan ini. Penyebab kelainan diduga ada dua hal, pertama faktor hormon yang dapat mengakibatkan sendi panggul mudah mengalami dislokasi, dan faktor kondisi acetabulum yang mendatar, padahal kondisi normalnya menyerupai mangkukterbalikKe-lainan ini sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya sudah mengalami lepas sendi total (dislokasi) lepas sendi sebagian (subluksasi) atau hanya rentan mengalami dislokasi.

Faktor Risiko
Yang memiliki risiko mengalami hal ini diantaranya:
  • Bayi dengan posisi bokong pada saat di dalam rahim, 
  • Jenis kelamin perempuan Iebih rentan terkena. Pada sebuah penelitian diketahui bawah angka kemungkinan terjadinya DDH pada anak wanita lahir bokong diperkirakan hingga 1 dari 15 anak
  • Anak pertama lebih sering mengalaminya dibandingkan kehamilan selanjutnya. 
  • Kurangnya cairan ketuban (oligohidramnion) diduga juga dapat menjadi penyebab.
  • Riwayat keluarga yang pernah mengalami serupa.
  • Pemasangan bedong pada bayi, diduga berperan terhadap kelainan ini, sehingga di beberapa negara, seperti Australia, penggunaan bedong sudah dilarang.
Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan berdasarkan usia. Jika baru lahir dapat dilakukan pemeriksaan tes Barlow dan tes Ortolani. Tes barlow dilakukan manipulasi untuk mendorong tulang paha keluar dari mangkuk acetabulum. Jika dapat keluar, maka sendi tersebut mudah mengalami dislokasi. Sedangkan tes ortolani dilakukan untuk mengembalikan sendi yang sudah mengalami dislokasi.

Iustrasi pemeriksaan adanya dklokasi panggul bawaan berdasarkan teknik Barlow dan Teknik Ortolani.

Tes barlow dilakukan usaha untuk menekan tulang paha, agar dapat diketahui penderita tersebut mengalami dislokasi atau mudah mengalami dislokasi, disebut juga sebagai tes provokasi. Sedangkan untuk tes ortolani,diusahakan untuk memasukkan kepala tulang paha ke dalam rnangkuk acetabulum, pada penderita yang sudah mengalarni dislokasi.
Pada anak yang sudah berumur lanjut, kedua pemeriksaan diatas tidak dapat dilakukan, karena sudah terjadi posisi yang salah dan mengalami perlengketan. Dalam kondisi ini diperlukan pemeriksaan Iain, berupa USG, CT scan, atau MRI untuk memastikan ada tidaknya kelainan pada sendi panggul.

Gejala
Gejala yang muncul kadang dapat mengindikasikan ke arah kelainan tersebut adalah:
  • Keterbatasan bayi saat menggerakkan tingkai keluar, karena sudah terjadi perlengketan pada otot.
  • Tingkai bayi panjang sebelah.  
  • Adanya Iipatan kulit pada bayi yang berbeda dengan bayi yang mengalami DDH 
  • Tungkai yang mengalami dislokasi lebih pendek dibandingkan Tungkai normal.
Pengobatan
Untuk menentukan jenis pengobatan yang akan digunakan, dokter akan mengumpulkan data saat konsultasi dilakukan. Pemberian terapi bergantung pada kondisi penderita dan waktu saat datang ke dokter.Semakin cepat berkonsultasi dan mendapatkan penanganan, hasilnya akan menjadi lebih baik dibandingkan pada penderita yang terlambat mendapat penanganan. Pilihan pengobatan diantaranya :
  • Observasi untuk melihat perkembangan 
  • Pemasangan pavlik harness (alat untuk rnempertahankan posisi normal sendi panggul) 
  • Pengernbalian posisi Sendi panggul yang normal, selanjutnya dipertahankan dengan gip
  •  Tindakan operasi untuk mengoreksi kelainan, selanjutnya dipertahankan dengan gip. 
Jenis tindakan yang dilakukan juga mempertimbangkan usia dan kondisi kelainan yang terjadi. Penanganan terbagi menjadi usia 0-6 bulan, dan usia 6 bulan keatas. Pada bayi usia 0-6 bulan dengan pergeseran tidaktotal maka dilakukan tindakan observasi (pengamatan) selama tiga minggu, tidak dilakukan intervensi medis. Sebagian akan kembali ke posisi normal. Jika tidak terjadi perbaikan posisi tiga minggu, dilakukan pemasangan pavlik harness. Sedangkan pada pasien yang memang sudah rnengalami dislokasi sejak awal dilakukan reposisi (pengembalian ke posisi normal). Setelah dikembalikan ke posisi normal dipertahankan dengan pavlik harnes selama 3 bulan untuk mendapatkan posisi normal.

Penggunaan alat ini memang cukup mengganggu, karena harus dipasang setiap hari tidak boleh dilepas.Setelah disambung beberapa larna,dan sudah berada dalam posisi normal, durasi pemakaian dikurangi. Pada awalnya alat dilepas selama 4 jam sehari, kemudian 6 jam, 12 jam, hingga tidak perlu dipergunakan kembali. Evaluasi berkala dilakukan dengan foto rontgen untuk konfirmasi posisi panggul yang normal.


Pemasangan gip setelah clilakukan reposisi sendi panggul yang mengalami dislukasi
Jika penanganan sudah sangat terlambat dan kondisi penyakit sudah membutuk, perlu tindakan pembedahan untuk mengoreksi masalah ini. Terdapat beberapa prosedur yang dapat dilakukan untuk mengoreksi dislokasi yang terjadi pada sendi panggul. Mulai dari memendekkan paha, melakukan rekonstruksi tulang acetabulum agar kepala tulang paha,masuk,dan sendi panggul dapat kernbali normal.


Gambar pemasangan pavlik harness dari arah depan dan dari arah helakang

Komplikasi

Jika tidak diatasi dengan benar, akan terjadi pertumbuhan sendi panggul abnormal. Celah acetabulum tidak lagi mencembung. Sedangkan bentuk kepala tulang paha menjadi abnormal. Kondisi ini menimbulkan rasa nyeri, dan gerakan sendi panggul tidak lagi optimal. Kondisi ini mengakibatkan anak berjalan dengan pincang.

Anak dengan kelainan ini yang tidak mendapatkan pengobatan memadai dapat terjadi pengapuran sendi panggul (osteoarthritis) yang parah pada saat dewasa. Selain itu akibat kerusakan pada lempeng tulang rawan, penclerita akan merasa nyeri terus menerus.Untuk mengatasi hal ini dilakukan penggantian sendi panggul dengan sendi buatan.

Dr. Gatot Ibrahim, SPOT

No comments:

Post a Comment