Friday, April 27, 2012

Stroke? Coba Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)

Stroke? Coba Transcranial Magnetic Stimulation (TMS).

Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) adalah saiah satu alat bidang Neurofisiologi yang dapat digunakan dalam membantu diagnosis gangguan saraf maupun digunakan dalam terapi/pengobatan gangguan saraf, baik gangguan fungsi saraf pusat maupun saraf tepi.
Dr. Tugas Ratmono, Sp.S, seorang dokter spesialis saraf dari RSPAD Gatot Subroto menjelaskan cara kerja alat ini adalah dengan memberikan stimulasi pada sel saraf otak sehingga sel-sel otak yang terganggu dapat bekerja kembali dengan lebih baik.TMS berguna meningkatkan aktivitas sel yang tidak begitu aktif melalui peningkatan kerja neurotransmiter, yaitu suatu zat penghantar padajalur sel-sel saraf. Terapi TMS dilakukan dengan rnemberikan gelombang elektromagnetik frekuensi rendah
atau frekuensi tinggi untuk memberikan efek inhibisi/hambatan pada saraf yang terlalu aktif ataupun menga ktivasi sel-sel yang kurang aktif. "Prinsipnya adaiah menyeirnbangkan kerja sel saraf", imbuhnya.

TMS Adalah Terapi Lanjutan.
TMS adalah terapi tambahan, bukan pengganti obat pada tatalaksana gangguan saraf. Pasien dengan gangguan sistern saraf tetap diberikan pengobatan sesuai standar setelah itu dapat diberikan terapi TMS untuk menunjang atau mempercepat proses penyembuhan.

Persiapan Sebelurn Terapi TMS.
Beberapa persiapan perlu dilakukan sebelum penggunaan TMS, seperti pemeriksaan klinis, pemeriksaan neurobehavior, penelusuran riwayat kejang, ada tidaknya metal atau logam pada otak,serta skrining fungsi sel saraf otak.
Pada pasien dengan riwayat kejang atau epilepsi, dapat dilakukan pemeriksaan EEG. Dari pemeriksaan EEG dapat diketahui apakah terdapat fokus epileptikus. Dengan ditemukannya fokus epileptikus pada pemeriksaan EEG dapat membantu untuk menentukan dosis TMS yang sesuai.Penggunaan TMS pada pasien epilepsi harus lebih hati-hati karena stimulasi yang berlebihan dapat memicu terjadinya kejang. Namun dengan pemberian dosis TMS yang tepat yaitu frekuensi rendah dapat membantu mengurangi kejadian frekuensi kejang pada kasus-kasus yang tidak dapat diatasi dengan obat rnaupun operasi. "Inilah pentingnya persiapan sebelurnTMS, salah satunya menggunakan EEG", tegas dokter yang telah hampir 3 tahun menggunakan TMS untuk terapi pasiennya ini.
TMS ini tidak dapat dilakukan pada orang yang mempunyai benda logam di otaknya karena prinsip kerja TMS ini adalah menggunakan meclan magnet- Namun bila benda logam tersebut berada di Iuar kepala seperti pada pasien yang menggunakan kawat gigi, TMS masih bisa dilakukan.
Pemeriksaan fungsi saraf otak bertujuan untuk memastikan bahwa pasien yang akan dilakukan TMS adalah pasien yang mengalami gangguan sistem sarafserta dapat menjadi acuan dalam pemberian dosis TMS.
Untuk mengetahui fungsi saraf otak dapat menggunakan EEG, EMG/EP/ MEP, CT scan atau MRI.
Sebelum diterapi pasien biasa nya juga akan diminta untuk menandatangani informed consent apabila dia setuju untuk dilakukan terapi TMS.
Fungsi Sel Saraf Yang Diperiksa.
Sebelum dilakukan TMS, pasien akan diperiksa fungsi sel sarafnya rnenggunakan Evoked Potential yang merupakan salah satu alat dalam rangkaian TMS. Melalui alat ini dapat mendeteksi gelombang otak melalui permukaan otak (cortex  cerebri) yang di dalamnya terdapat banyak sel - sel saraf atau neuron. Melalui pemeriksaan Evoked Potential, dapat diketahui koneksitas antar sel saraf, efek menimbulkan gelombang - gelombang, sensitifitas sel saraf dimana semakin sensitif sel saraf, semakin baik, dan waktu konduksi sentral sel saraf. Waktu konduksi ini menggambarkan kemampuan sel saraf untuk menghantarkan sinyal atau pesan,jika semakin panjang waktunya berarti terdapat gangguan. Selain itu juga dapat diketahui tingginya gelombang (amplitudo) yang dihasilkan sel saraf. Semakin rendah amplitudo biasanya terdapat gangguan.
Dr. Tugas Ratmono, Sp.s


Gambar 1 . Alat Evoked Potential Pemberia

Pemberian TMS.Satu program terapi TMS diberikan sebanyak 10 kali selarna dua minggu secara berurutan. Minggu pertarna diberikan 1 kali sehari selama 5 hari, kemudian jeda 2 hari untuk mengistirahatkan otak setelah pemberian stimulasi, lalu dilanjutkan minggu kedua selama 5 hari juga seperti minggu pertama. Satu kali pemberian TMS dapat berlangsung antar 10-20 menit untuk masing-masing belahan otak Terapi 'TMS dapat dilakukan lebih dari satu program tergantung keperluan. Misalnya pada kasus stroke dapat diberikan sampai 4 minggu.
Pemilihan lokasi pemberian tergantung dari kebutuhan pasien. Misalnya pada pasien yang mengalami gangguan bicara, maka sel-sel saraf yang berfungsi untuk bicara yang akan distimulasi. Pada pasien dengan gangguan motorik seperti tidak bisa berjalan, maka akan dipilih lokasi yang sesuai yang mengatur proses berjalan. Demikianjuga untuk gangguan lainnya pemberian TMS disesuaikan dengan fungsi otak yang terganggu.
Setelah pemberian TMS terka dang pasien dapat merasa sakit kepala atau mengantuk. Tapi tidak perlu khawatir, efek ini sifatnya sementara. Sakit kepala yang timbul dapat diredakan dengan obat sakit kepala biasa. Dan sampai saat ini belum ada yang melaporkan adanya efek jangka panjang.


Dimana Bisa Terapi TMS?

Terapi TMS telah digunakan di Klinik Stimulasi Otak Non lnvasif di RSPAD Gatot Subroto, tepatnya di Jl. Dr. Abdul Rach man Saleh No.24,Jakarta Pusat untuk membantu proses penyembuhan pasiennya yang mengalami gangguan saraf.
Cakupan pelayanan klinik ini adalah terapi pada kasus stroke, Parkinson, pasca trauma otak dan saraf, neuropati, distonia, depresi, nyeri kronik termasuk Low Back Pain, gangguan keseimbangan, tinitus (telinga berdenging), gangguan bahasa (sulit bicara), gangguan kognitif, penyakit degeneratif seperti Multiple Sclerosis, dan post Barre Syndrome (GBS).
Sebagian besar pasien yang telah diterapi menggunakan TMS di klinik ini adalah pasien stroke dan beberapa penyakit saraf lainnya.

Gambar 2. Kasus stroke: amplitude normal [atas], amplitudo lemah (bawah)



Gambar 3. Kasus Stroke Dengan Sisi Kiri Lumpuh. Sebelum Terapi (A) dan Setelah Terapi TMS, Pasien Sudah Bisa Berjalan (B)

Dr. Woro Hastiningsih

No comments:

Post a Comment